Senin, 25 Maret 2013

KITAB ULANGAN

4.5. KITAB ULANGAN
(Suatu Tantangan bagi Umat Allah)

            Kitab Ulangan merupakan salah satu kitab yang paling penting dan berpengaruh di antara satu kitab yang paling penting dan berpengaruh di anatara kitab-kitab Ibrani. Kitab ini menyajikan pandangan teologis yang memperngaruhi nabi-nabi terdahulu (Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja), sekarang disebut sebagai Sejarah Deuteronomis Israel. Pengaruhnya juga terasa sampai waktu peredaksian terakhir kitab nabi-nabi yang terkenal seperti Hosea dan Yeremia. Secara tidak langsung, Kitab Ulangan juga mempengaruhi sejarah Tawarikh Israel (Tawarikh, Ezra, dan Nehemia). Perjanjian Baru mengutip atau menunjuk pada lebih dari 200 kali teks Ulangan.[1]
           
4.5.1. Nama Kitab
            Nama Ibrani untuk Kitab Ulangan dirangkum dalam baris pembukaan yang berbunyi “inilah perkataan-perkataan itu”. Nama Ulangan diambil dari kata Yunani yang berarti “hukum kedua” yang merupakan terjemahan yang sedikit kurang tepat dari “salinan dari hukum ini” (Ul 17:18).[2] Alkitab terjemahan lama, terjemahan Klinkert terbitan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1960 memberi nama Kitab Ulangan sebagai “Kitab nabi Musa yang kelima”.[3]

4.5.2. Kepengarangan
            Menurut pendapat sebagian besar ahli mengemukakan bahwa kitab ini disusun tidak lama sebelum tahun 621 sM, ketika kitab itu ditemukan. Tetapi pada abad ke-20 para ahli tidak sependapat lagi tentang waktu penyusunan ini. Ada yang menggeser waktu penyusunan Kitab Ulangan sampai pada zaman Manasye atau Hizkia, atau lebih awal dari Amos, atau bahkan sejak zaman Samuel. Yang lain menduga kitab ini disusun pada zaman Hagai dan Zakaria, atau bahkan setelah itu. Sementara itu, para ahli memperhatikan bahwa kitab Ulangan lebih mirip dengan Kitab I dan 2 Raja-raja daripada dengan keempat kitab pertama dari Taurat. Tetapi menurut teori sumber klasik, Kitab Ulangan ditemukan pada tahun ke-18 pemerintahan Raja Yosia dari Yehuda (612 sM), ditemukan oleh para pekerja yang memperbaiki Rumah Allah.[4] Dalam bentuk aslinya Kitab Ulangan dapat dipandang sebagai “terbitan ulang” kitab Keluaran 21-23.[5]
            Memang menurut tradisi lama menunjukkan Musa sebagai pengarang Kitab Ulangan tetapi penelitian modern cukup membuktikan bahwa pengarangnya bukan Musa. Dan perlu dicatat bahwa Kitab Ulangan sendiri secara keseluruhan tidak memperkenalkan diri sebagai buah tangan Musa. Memang ada tertulis, bahwa Musa menuliskan Torah Ulangan (31:9, 24), dan bahwa dia langsung mengucapkan beberapa bagian tertentu (Ul 1:5; 4:45; 31:30). Tetapi rangkaian/kumpulan Kitab secara keseluruhan ternyata berasal dari tangan lain. Bahkan ada faktor-faktor yang menunjukkan bahwa bahannya pada umumnya mencerminkan keadaan yang jauh setelah zaman Musa.
a.      Jelas bahwa Ulangan 34, yang meriwayatkan kematian Musa, tidak dikarang oleh Musa sendiri.
b.     Pangarang adalah penduduk Kanaan: *) Ul 1:1 mencatat bahwa tempat Musa berpidato itu (yaitu tanah Moab) terletak “di seberang sungai Yordan”; itu berarti bahwa pengarang sendiri adalah penduduk Palestina barat, yang hidup sesudah zaman perebutan tanah Kanaan. Demikian juga Ul 1:5; 3;8; 4:46. *) Isi Ul 2:12 mengandung pararel sebagai berikut: “Dan dahulu di Seir diam orang Hori, tetapi bani Esau telah menduduki daerah mereka: dan dahulu di Palestina diam orang Kanaan, tetapi orang Israel telah menduduki daerah mereka”. Jelaslah bahwa zaman didudukinya negeri itu sudah lewat
c.      Bahasa yang dipakai dalam Kitab Ulangan lain daripada yang terdapat dalam lapis-lapis tertua Kitab Kejadian dan Keluaran, tetapi mirip bahasa Kitab Yeremia dan naskah-naskah Lakhis (abad VII sM).
d.     Bahan Ulangan mencerminkan suatu keadaan masyarakat yang sudah berkembang, dibandingkan dengan zaman Musa. Israel menduduki kota-kota, di tengah-tengah orang-orang dursila atau kafir (Ul 13:13 dst.nya); Bujukan nabi-nabi palsu terasa sebagai bahaya (Ul 13:1-5); Sistem keuangan sudah berkembang, sehingga peraturan ‘tahun penghaspus hutang’ yang dahulu menyangkut soal hak budak saja (Kel 21:1-4) dalam Ulangan diterapkan, sehingga menyinggung juga soal penghapusan hutang berupa uang (Ul 15:1-11).[6]

4.5.3. Tujuan Kitab:
            Tujuan dari pidato-pidato Musa dalam Kitab Ulangan ialah memperbaharui Yehuda, umat pilihan Allah itu, menjadi suatu bangsa kudus yang dikhususkan untuk Yahweh, suatu bangsa yang suka melakukan perintah-perintah Tuhan yang esa karena dorongan cinta kasih (Ul.5-7; bnd. Kel 19:5). Dengan perkataan lain, Kitab Ulangan berusaha mewujudkan bangsa dan negara teokratis, dengan raja yang menduduki tahta tidak dinilai lebih tinggi daripada warga Israel, kerena mereka sama-sama takluk pada hukum Yahweh (Ul 17:14). Kitab Ulangan tidak lain sebagai suatu reintrepetasi atau penerapan hukum Musa (Ul 1:5).[7]
            Karya ini menurut Vriezen[8] disusun dengan tujuan memperbarui agama dan memperbaiki hidup kerohanian bangsa Israel. Maka dalam Kitab Ulangan, diuraikan prinsip bahwa ritus-ritus yang berlaku di bukit-bukit pengorbanan harus dihapuskan, bersama dengan Baalisme dan segala ibadat yang lain, sehingga tinggal satu Bait Suci saja, yaitu bait di Yerusalem (Ul 12). Pengarang sangat menentang segala macam penyembahan berhala (ps. 13), menguatkan peraturan-peraturan berkenaan denghan ritus dan upacara keagamaan (ps. 14), dan secara konkrit ditentukan peraturan-peraturan yang mengatur masa-masa raya. Ditegakkan prinsip kemerdekaan warga Israel, dan menuntut sistem pengadilan yang bebas dari segala macam korupsi (Ul 15:12; 16:18; 17:8; 19:14).
            Peraturan-peraturan di atas kemudian diterapkan dengan menghapuskan hak dan kewajiban para imam dan kaum Lewi yang dahulu melayani di kuil-kuil desa, dan kegiatan para nabi diatur secara ketat (Ul 13:18). Berbagai bentuk pertenungan dilarang (ps.18). Ditentukan peraturan-peraturan peperangan, hak-hak warga negara, dan hukuman-hukuman atas pelanggaran hukum. Israel sebagai umat Yahweh ditaklukkan pada Tora Yahweh.
            Seluruh Kitab Ulangan berdasarkan prinsip pemilihan Israel oleh Yahweh, yang mangandung unsur anugerah dan tanggung jawab, maka berdasarkan prinsip itu umat pilihan tersebut harus menjadi umat yang suci. Corak hidup mereka harus membawa kemuliaan bagi nama Allah dan harus mencerminkan kesetiaan mereka kepada-Nya. Mereka harus hidup dalam persekutuan persaudaraan sambil mempertahankan kemurniaan agama mereka.
4.5.4. Isi Kitab[9]
            Pada tahun ke-40 setelah umat Israel meninggalkan Mesir, Musa menegaskan kembali Hukum Allah kepada generasi yang baru, yang adalah anak cucu umat Israel yang pertama meninggalkan Mesir dan sekarang diam di Lembah Moab, sambil menanti saatnya untuk memasuki Tanah Perjanjian (Ulangan 29:1-5). Namun kitab Ulangan lebih dari sekedar ringkasan dari Hukum Allah yang telah disampaikan melalui Musa di gunung Sinai. Kitab ini merupakan suatu wahyu yang baru tentang Allah dan kasihNya. Dari Kejadian sampai Bilangan, kasih Allah itu tak pernah disebut-sebut; namun sekarang, empat kali Musa menegaskan: Ia mengasihi nenek moyangmu....Tuhan mengasihi kamu (Ulangan 4:37; 7:7-8; 10:15; 23:5).
            Berita yang disampaikan Musa kepada umat dimulai dengan pengulangan kembali perjalanan mereka di padang gurun dan kegagalan yang dialami oleh nenek moyang mereka (Ulangan 1:1-11). Juga ia mendorong mereka agar mentaati Firman Allah (Ulangan 4:1-40). Ia mengingatkan umat bahwa Tuhan telah mengadakan perjanjian dengan mereka di Horeb (Gunung Sinai). Kemudian, sesudah menegaskan kembali Kesepuluh Hukum kepada mereka (Ulangan 4:44; 5:33), Musa juga mengingatkan untuk tidak melupakan Allah nenek moyang mereka, yang adalah satu-satunya Allah yang benar, dan menasihatkan umat untuk tetap mengasihi Tuhan (Ulangan 6:1-25). Juga pentingnya ketaatan kepada Firman Tuhan ditekankan dan perlunya mengajarkannya dengan giat kepada anak-anak mereka. Termasuk dalam nasihat-nasihat ini adalah awasan tentang hukuman yang akan menimpa para penyembah berhala dan bahayanya sikap bersandar kepada kemampuan diri sendiri dan sikap melupakan Allah (Ulangan 8:1 - 10:5).
            Musa juga menegaskan tentang kehidupan yang penuh dengan ketaatan dan kasih dengan mengatakan: Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh Tuhan Allahmu, selain dari....mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu....dan berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu (Ulangan 10:12-13). Nasihat ini diikuti dengan petunjuk mengenai tempat beribadah di Tanah Perjanjian (Ulangan 12:10-14). Selain itu, mereka juga harus menghancurkan segala bentuk agama yang palsu -- termasuk mezbah-mezbah, patung-patung dan kota-kota yang menjadi pusat berhala-berhala. Setiap orang yang merayu orang lain untuk menyembah berhala harus dibunuh (Ulangan 12:1-3,29-32; 13:1-18).
            Juga kitab ini berisi nasehat-nasehat tentang pemerintahan, kehidupan pribadi dan sosial, pentingnya memberi persepuluhan dan korban-korban persembahan (Ulangan 12:5-28; 14:22-29), dan pelaksanaan tiga hari raya yang besar yaitu Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun (Ulangan 16:1-17). Juga yang tidak kalah penting adalah nubuatan mengenai seorang Nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku (Musa); dialah (Kristus) yang harus kamu dengarkan (Ulangan 18: 15). Seribu lima ratus tahun kemudian, Petrus menerapkan nubuatan ini kepada Kristus (Kisah 3: 22-23), sebagaimana juga dilakukan oleh Stefanus (Kisah 7:37; lihat juga Yoh 1:21).
            Musa ingin membaharui kembali perjanjian Tuhan yang telah disampaikan di gunung Sinai (Horeb) yang berisi di antaranya adalah berkat-berkat terhadap ketaatan dan kutuk terhadap ketidaktaatan (Ulangan 27:1 - 28:68). Setelah menyeberang masuk ke Tanah Perjanjian, umat Israel harus mempersembahkan korban bakaran dan korban perdamaian, dan harus mengukirkan Hukum Allah pada dua tiang batu yang akan didirikan di gunung Ebal di mana di tempat itu mereka juga harus mengucapkan kutuk terhadap ketidaktaatan. Berkat-berkat untuk ketaatan harus disampaikan dari Gunung Gerizim.
            Musa kembali menasihatkan umat Israel untuk mengasihi Tuhan....mendengarkan suaraNya.... berpaut padaNya, sebab Ia adalah sumber kehidupanmu (Ulangan 30:20). Kemudian Musa disuruh menulis sebuah nyanyian yang Allah berikan kepadanya dan kemudian mengajarkannya kepada umat sebagai saksi bagi-Ku (Allah) (Ulangan 31:19-22,30; 32:1-43). Kitab ini berakhir dengan Yosua, yang diperintahkan oleh Musa untuk mengambil alih sebagai pemimpin umat Israel.

4.5.5. Teologi/ajaran[10]
a)      Pengakuan iman (6:4-5) adalah ringkasan pengakuan iman Israel yang disebut syema oleh orang Yahudi (kata pertama dlm bhs Ibrani). Kata-kata itu harus dicamkan dalam hati orang Israel dan mereka harus mengajarkannya dengan tekun kepada anak-anak mereka. Kata-kata itu harus menjadi 'tanda' pada tangan dan 'lambang' di dahi mereka. Kata-kata itu harus ditulis pada tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang. Perintah itu, yang segera menyusul Syema, telah menjadi bagian ibadat sehari-hari orang Yahudi. Yesus memakai kata-kata dalam ayat 5 sebagai hukum pertama dan utama (Mat 22:37).
Pengakuan iman itu menyatakan keesaan dan keunikan Tuhan Allah Israel, khususnya dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya. Kata yang dipergukan untuk “esa” adalah angka satu, sehingga arti harfiahnya ialah 'TUHAN Allah kita, TUHAN, satu'.
b)      Allah yang berkarya (19:2-4,13). Kepercayaan ini merupakan bagian penting dalam kisah penciptaan, air bah dan perjanjian Allah dengan Abraham. Dan yang paling agung terjadi pada saat Allah menghadapi Firaun untuk membebaskan Israel. Dalam Kitab Ulangan karya Allah dalam sejarah menjadi bagian dasar pandangan kitab ini, terutama karya yang berkaitan dengan tuntutan Allah atas Israel pada waktu itu dan sesudah mereka memasuki tanah perjanjian. Ulangan pasal 4 terdapat ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Musa mengingatkan bangsa Israel tentang segala karya Allah (ay 3,5,9,15-16,19-20,25-31,32-35). 
c)      Pemilihan Israel.  Ajaran ini ditemukan dalam pemanggilan Abraham (Kej 13:1-3;15:1-6), janji Allah ditujukan kepada keturunan Abraham. Gagasan ini dikemukakan dalam panggilan Allah kepada Musa (Kel 3:6),  dalam pemberian hukum Taurat di Sinai (bnd. Kel 20:2,12), dan dalam sistem korban dalam Kitab Imamat (bnd. Im 18:1-5,24-30). Janji itu disebutkan pada saat para pengintai diutus ke Kanaan (Bil 13:2) dan dalam laporan Yosua dan Kaleb (14:8). Tetapi yang paling penting adalah pemilihan Israel oleh Allah adalah gagasan yang meresapi Kitab Ulangan.
Kata yang sering dipakai untuk mengemukakan ajaran pemilihan dalam Perjanjian Lama adalah kata kerja bakhar ('memilih') yang banyak terdapat dalam Kitab Ulangan.[11] Perlu diingat bahwa pemilihan Allah atas Israel dilaksanakan dengan menjadikan mereka sebagai suatu bangsa yang baru. Pemilihan Allah itu bukanlah perbuatan yang sewenang-wenang, seolah-olah Allah memilih suatu bangsa yang telah ada dan merendahkan yang lainnya. Karya penyelamatan-Nya yang baru memerlukan bangsa yang baru. Itulah sebabnya Ia memanggil Abraham dan membentuk satu bangsa yang baru yang berasal dari keluarga Abraham dan dari peristiwa-peristiwa sejarahnya.
d)     Perjanjian. Ikatan yang muncul dari pemilihan Allah atas Israel disebut “perjanjian”. Kata “perjanjian” yang sering muncul dalam Perjanjian Lama tidaklah sama dengan “kontrak”. Kontrak mengandung quid pro quo (sesuatu ganti sesuatu), misalnya “sesuatu yang saya terima, saya setuju untuk membayar nilai yang sesuai”. Atau seperti maharaja yang menaklukkan kerajaan kecil dan kemudian membebani kewajiban tertentu, upeti, dsb.nya. Perjanjian dalam Alkitab tidak bersumber dari quid pro quo maupun dari penaklukan. Perjanjian dalam Alkitab mulai dengan kasih: “karena TUHAN mengasihi kamu” (7:8). Meskipun Israel gagal memenuhi kewajibannya, seperti yang terjadi dalam masa pengembaraan di padang gurung, namun Allah tidak membatalkan perjanjian-Nya (4:31).
Meskipun demikian bukan berarti Israel bukan tanpa kewajiban dalam ikatan ini. Sebenarnya, hukum yang diberikan di Sinai, yang diulangi Musa dengan penerapan yang praktis, terdiri dari kewajiban-kewajiban sebagai akibat perjanjian itu. Allah dapat menghukum Israel karena ketidaktaatan dan bahkan dapat menghukum seluruh Israel karena ketidakpercayaan. Namun perjanjian-Nya tetap berlaku, semata-mata karena sifat-Nya. Ulangan 8:1-6 merupakan perintah Allah yang disampaikan ulang oleh Musa supaya Israel taat akan perintah-perintah Allah.


[1] Leslie J. Hoppe, Ulangan, dalam Bergant&Karris (ed), Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, (Yogyakarta, Kanisius, 2002), hal. 197
[2] John Balchin dkk., Intisari Alkitab Perjanjian Lama,(Jakarta, PPA, 2005), hal.43, cet. ke-3
[3] I.J, Cairns, Tafsiran Alkitab, Kitab Ulangan Pasal 1-11, (Jakarta, 1994), hal. 1, cetakan kedua.
[4] W.S. LaSor dkk., Pengantar Perjanjian Lama 1, (Jakarta, PT. BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 250, cet. ke-9
[5] Vriezen, …(Jakarta, 2001), hal. 249. Lihat juga. David L. Baker, Mari...Mengenal Perjanjian Lama, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 44, cet. ke-9, (edisi baru)
[6] Lebih jelas dan lengkap lihat penjelasan Cairns, Op.Cit, hal 1-3
[7] Vriezen, Op.Cit, hal. 252
[8] Vriezen, Op.Cit, hal. 148
[9] www.sabda.org.  Istilah-istilah kunci seperti mentaati dan melakukan terdapat lebih dari 170 kali dalam kitab ini.
[10] LaSor dkk., Pengantar Perjanjian Lama 1, Taurat dan Sejarah, (Jakarta, BPK. Gunung
Mulia, 2004), hal.252-261, cet. ke-9
[11] Terdapat 30 kali dalam Kitab Ulangan, 20 kali dalam Kitab Yesaya dan 1-2 Samuel masing-masing,
15 kali dalam 1-2 Raja-raja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar